Fatherless atau Husbandless? Peran yang hilang dalam rumah tangga

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads tentang selain fatherless, masalah lain dalam rumah tangga itu sebenarnya adakah husbandless. Yaitu rumah tangga yang semua dilakukan istri tanpa ada peran suami atau istri yang tak merasakan peran suami secara fisik dan emosi, hanya sebatas dikasih nafkah uang lalu woshhhh... lenyap! tak lagi memberikan peran apa-apa dalam tumbuh kembang anak, membereskan apa-apa yang berantakan di rumah, basa-basi dengan istri, atau bahkan tak juga disentuh di kamar. Dan na'udzubillahnya melakukan KDRT pula.

Dan akhirnya ketika sebuah rumah tangga guncang lalu retak dan anak ikut dengan ibunya, orang selalu mengangkat tajuk "kasian, nanti anaknya fatherless", dan lupa menyebut husbandless yang dialami istri.

Padahal...



Laki-laki tidak akan bisa jadi ayah yang baik kecuali dia jadi suami yang baik, yang dirindukan istrinya.

Anak akan mengagumi ayah lewat lisan ibunya yang menceritakan hal-hal baik tentang ayah ketika ayah jauh dari rumah, menjemput rizqi.

Lalu... Bagaimana seorang istri dapat menggambarkan figur ayah yang baik pada anak melalui ucapannya, ketika ia sendiri tidak merasa aman dan tidak merasakan kebaikan suami?
Bagaimana ia dapat mempertahankan rumah yang ia sendiri tidak ingin tinggal di dalamnya?

Akan sama halnya ketika yang bekerja adalah istri dan suami yang mengasuh anak di rumah. Figur ibu yang baik tercipta dari suami yang tetap merasa dihargai dan dihormati oleh sang istri.

Itulah kenapa sebelum jadi orangtua yang baik pada anak, kita harus jadi pasangan yang baik pada suami/istri sendiri terlebih dahulu.
Dan orang yang paling pantas mendapatkan kebaikan kita adalah keluarga kita.
Ya Allah ya Robb.. mampukan kami menjalani biduk rumah tangga ini.