Fatherless atau Husbandless? Peran yang hilang dalam rumah tangga

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah utas di Threads tentang selain fatherless, masalah lain dalam rumah tangga itu sebenarnya adalah husbandless. Terus langsung angguk-angguk kepala. 
Kalian tau husbandless kan? Yaitu rumah tangga yang semua dilakukan istri tanpa ada peran suami atau istri yang tak merasakan peran suami secara fisik dan emosi, hanya sebatas dikasih nafkah uang lalu woshhhh... lenyap! tak lagi memberikan peran apa-apa dalam tumbuh kembang anak, membereskan apa-apa yang berantakan di rumah, basa-basi dengan istri, atau bahkan tak juga disentuh di kamar. Dan na'udzubillahnya melakukan KDRT pula.

Dan akhirnya ketika sebuah rumah tangga guncang lalu retak dan anak ikut dengan ibunya, orang selalu mengangkat tajuk "kasian, nanti anaknya fatherless", dan lupa menyebut husbandless yang dialami istri.

Padahal...



Seperti yang selalu disebut dan diingatkan oleh ustadz Bendri Jaisyurrahman: Laki-laki tidak akan bisa jadi ayah yang baik kecuali dia jadi suami yang baik, yang dirindukan istrinya.
Anak akan mengagumi ayah lewat lisan ibunya yang menceritakan hal-hal baik tentang ayah ketika ayah jauh dari rumah, menjemput rizqi.

Lalu... Bagaimana seorang istri dapat menggambarkan figur ayah yang baik pada anak melalui ucapannya, ketika ia sendiri tidak merasa aman dan tidak merasakan kebaikan suami? 
Bagaimana ia dapat mempertahankan rumah yang ia sendiri tidak ingin tinggal di dalamnya?
Itulah kenapa penting untuk menjadi pasangan yang baik terhadap suami/istri kita sebelum jadi ayah/ibu yang baik unuk anak kita.
Dan orang yang paling pantas mendapatkan kebaikan kita adalah keluarga kita.

Akan sama halnya ketika yang bekerja adalah istri dan suami yang mengasuh anak di rumah. Figur ibu yang baik tercipta dari suami yang tetap merasa dihargai dan dihormati oleh sang istri.
Meski dalam praktek keseharian, lebih sering ditemukan, istri yang husbandless dan anak-anak yang fatherless. Dan kedua kondisi ini sama-sama berangkat dari praktik patriarki yang salah.
Laki-laki merasa sudah capek dan lelah bekerja di luar rumah, sehingga sampai rumah maunya tidur tanpa diganggu. Laki-laki maunya dilayani dalam segala aspek dalam rumah tangga. Tidak ikut memasak, tidak berpeean dalam membersihkan dan merapikan rumah, tidak ikut andil mencuci dan merapikan baju. Nasi harus disendokkan istri, padahal tangan istri sedang sibuk mendiamkan anak yang rewel. Baju harus disiapkan dari lemari padahal istri sibuk di dapur.
Akhirnya... Istri tidak diringankan dalam mengurus rumah, anak tidak dapat peran ayah juga contoh suam yang baik, dan dia sendiri jadi "buta" dalam rumah. Buta dalam artian, tidak tau apa yang rusak di rumah, tidak tau harus menyimpan barang dimana, tidak tau harus menemukan barang di mana, juga bahkan tidak peka terhadap lantai yang kotor, dll.

Dalam Islam sendiri, nabi Muhammad shallalallahu 'alaihi wasallam digambarkan sebagai uswah yang paling baik sebagai pemimpin umnat, juga sebagai pemimpin rumah tangga.  Beliau membantu urusan dapur dengan memerah susu kambing, menjahit sendiri bajunya yang sobek, tidur depan pintu rumah kaena khawatir mengganggu tidur sang istri, bahkan berusaha merawat cinta dengan menyuapkan makan dan mandi berdua.
Tapi entah kenapa giliran hal-hal yang begini, egonya laki-laki seperti sangat disentil.!!

Intinya mah ya.. saling ngerti. Menikah itu menyatukan dua orang untuk sama-sama tumbuh, belajar, membangun mimpi. Suami lelah bekerja, istri memberi rumah yang nyaman untuk pulang. Istri kelelahan mengurus rumah, suami ambil peran ikut meringankan.
Kalau masing-masing dengan egonya mah gimana ya.. kalau emang tidak bisa bersama lagi dengan segala solusi dan jalan keluar yabg dicoba, berpisah lebih baik.

Ya Allah ya Robb.. mampukan kami menjalani biduk rumah tangga kami.

Dan postingan ini hanyalah pendapat reaksi random isi kepala new mom yang berusaha tetap produktif nulis meski banyak nantinya.