60 hari menjadi ibu
Pernah dengar ungkapan, 'kamu gak bakalan tau perasaan orang tua, sampai kamu menjadi orang tua dari anakmu sendiri'?
Agak mirip narasinya dengan, 'you will never know, until you walk in their shoes'.
Postingan kali ini 100% mungkin isinya adalah pembenaran atas kalimat tersebut.
Jadi selamat datang!
60 hari menjadi ibu adalah selebrasiku. Postingan pertama setelah rehat hamil tua, melewati masa newborn bayiku dan mengakhiri siklus nifas dengan bantuan bapak si bayi, juga Hafidza; icci si bayi, yang ikut menyaksikan dan ambil peran dalam segala tetek bengek proses lahiran hingga ikut andil proses pemulihanku.
Banyak hal yang berubah dan aku tidak berhenti menulis. Aku mencatat inci perjalanan kehamilan, hari melahirkan hingga hari demi hari masa newborn terekam dalam notes-notes dan ruang obrolan pribadiku.
Tapi terkhusus kali ini, 60 hari menjadi ibu adalah refleksi-refleksi pribadi sebelum dan setelah 60 hari menjadi ibu.
Dulu, aku pernah berpikir. Kalau nanti aku jadi ibu, aku gak akan begini, aku gak akan begitu. Benar. Aku tetap akan menghindari apa yang tidak ingin kulakukan itu. Tidak ada pembenaran melakukan hal yang tidak baik kepada anak kita. Jadi perkataan "liat saja kalau kamu sudah jadi ibu" sebagai tameng pembenaran atas suatu kekeliruan, bukanlah hal yang benar. Tidak dipungkiri, banyak hal yang terasa berat. Merawat bayi yang baru bisa menangis, merengek, sedang badan sudah di puncak lelah. Ada masanya menghela napas panjang sambil membatin, "robbi.. tolong hamba dan bayi ini."
Kamu mungkin ngerasa kamu adalah orang yang suka sama bayi, dan bisa ngemong mereka. Kamu mungkin berpikir, "gampang lah.. biasa gue gendong bayi juga selalu anteng." Padahal bisa saja kamu itu cuma lagi ngemong, gendong atau ajak main di waktu-waktu terbaik si bayi. Alias saat bayi nyaman, sudah kenyang, popoknya sudah diganti, perut tidak kembung dan saat dia tidak rewel tentu saja. Cobalah mengurus bayi selama 24/7 dan kamu akan tau bagaimana lelahnya. Belum lagi ditambah lelah fisik saat menyusui. Atau tidur yang sebentar-sebentar terbangun karna mendengar rintihan bayi yang padahal lagi pulas tidur. Atau bahkan tidak tidur sama sekali karna bayi terus-terusan terbangun dan menangis ingin digendong.
60 hari ini adalah perjalanan singkat tapi panjang. Singkat karena bayi itu ternyata cepat sekali besarnya, namun terasa panjang karena 24/7 ku adalah membersamai bayi dan berdiam dalam rumah.
60 hari ini ternyata penuh rasa lelah, kantuk dan bahkan ingin menangis saja. Pantas saja ummi begitu khawatir tidak bisa membersamai anak perempuannya ini jelang hari lahir. Karna kami baru pertama kali jadi orang tua, segalanya adalah hal baru jadi kami banyak bertanya, ke teman, saudara, ortu, bahkan ke Google atau mencari informasi di Tiktok. Ditambah bapak si bayi orangnya panikan mengenai putri pertamanya ini, rasanya kepalaku penuh kalau dia sudah "panik". Alhamdulillah rasa lelahku berkurang karna Hafidza mengambil alih urusan dapur. Aku sesempatnya saja saat merasa ingin sekali berdiri di depan kompor dan westafel. Sesekali dia juga mencuci baju si bayi dan membantu memutar pakaian kami di mesin. Bahkan semua kain dan pakaian penuh darahku saat persalinan dia yang bersihkan. Baarokallahfiih.. semoga Allah mengganti itu dengan balasan terbaik dari Allah ya dek..

0 Response to "60 hari menjadi ibu"
Silahkan tinggalkan komentar di sini. - Please, leave a comment here.