Menikah Tanpa Ekspektasi, Gimana Kehidupan Setelahnya?

Suatu waktu, suami bertanya.
🧔🏽 Setelah nikah, ade pernah kaget nggak dengan sikap atau kelakuan kaka?
🧕🏽 Enggak sih.
🧔🏽 Emang iya? Kenapa?
🧕🏽 Ya, soalnya saya nggak punya ekspektasi apa-apa. 

Dan... hmmm.. kayaknya jawaban saya mungkin agak bikin beliau heran. Jadi beliau bilang begini dengan logat timur "Begitu e... kayaknya su kepo sekali deng saya jadi tidak kaget e..."
Buahahaha! Ngakak sejadi-jadinya saya mendengar perkataan itu. Soalnya tidak ada kepo sama sekali. Rumahnya yang mana saja saya tidak tau, padahal ternyata saya sering ke rumah kakek saya yang letaknya persis di sebelah rumah dia.🤣

Eh! Tidak ada ekspektasi itu bukan berarti saya menganggap pernikahan ini bakal biasa-biasa saja, ya. Apalagi sampai mengira bakal hidup bersama manusia yang isinya cuma kebaikan. Manusia yang nggak punya kekurangan, nggak pernah bikin kesal, nggak berubah, nggak bikin geleng-geleng kepala, dan selalu tahu bagaimana cara memperlakukan pasangannya dengan benar.
Lha, wong saya sendiri juga manusia. Kok, ya, berharap terlalu banyak dari manusia lain?
Saya ya manusia biasa yang masih harus banyak belajar. Yang ada kalanya merasa sudah cukup sabar, tetapi ternyata masih mudah tersulut perkara kecil. Ada kalanya merasa sudah cukup dewasa, tetapi ketika dihadapkan pada situasi tertentu, eh, responsnya masih kekanak-kanakan juga. Hari ini bisa merasa lapang menghadapi sesuatu, besoknya bisa saja diuji dengan perkara receh yang ternyata bikin emosi.
Manusia memang begitu, bukan? Ada naik turunnya. Ada kurang dan lebihnya. Ada sisi baik yang ingin terus dipertahankan, ada pula sisi buruk yang harus terus diperbaiki.
Lantas, bagaimana mungkin saya berharap akan hidup bersama seseorang yang selalu menyenangkan, sementara saya sendiri pun masih jauh dari kata sempurna? Emosi dan mood saya saja selalu berubah-berubah dan mempengaruhi perangai saya.
Bagaimana mungkin saya berharap akan hidup bersama manusia yang perangainya selalu sesuai dengan keinginan saya? 

Apalagi berekspektasi bahwa setelah akad, semua akan indah terus, kehidupan kami akan otomatis berjalan mulus, penuh bunga-bunga, berlarian ke sana - ke mari tertawa, dan bebas dari segala macam drama. Tidak, Maemunah.

Saya tahu, menikah itu perkara besar. Ada hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Ada amanah yang harus dijaga. Ada tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Hanya saja, saya tidak ingin memasuki pernikahan dengan membawa terlalu banyak bayangan tentang bagaimana suami harus bersikap, bagaimana saya harus diperlakukan,
dan bagaimana kehidupan kami seharusnya berjalan.
Sebab, sering kali, yang bikin kecewa itu bukan cuma kenyataan yang tidak menyenangkan, tetapi juga ekspektasi kita sendiri yang terlalu tinggi terhadap sesuatu yang belum tentu bisa kita kendalikan.
Kita membayangkan suami akan begini, ternyata begitu. Membayangkan rumah tangga akan seperti ini, ternyata justru dihadapkan pada keadaan yang sama sekali berbeda. 
Padahal, yang kita nikahi itu manusia, bukan tokoh utama novel romantis yang sudah ditulis sedemikian rupa agar selalu berhasil membuat pembacanya tersenyum-senyum sendiri. 
Dan yang lebih penting lagi, saya sendiri juga manusia.
Manusia yang punya kekurangan, punya sisi buruk, punya emosi yang kadang naik turun, dan punya banyak hal yang masih harus diperbaiki.

Jadi, ya, mari kita mulai dari situ saja.

Belajar Menerima Dan Tumbuh Bersama


Saya tidak sempurna. Suami juga tidak sempurna. Kami menikah bukan karena sudah menjadi dua manusia yang tamat menguasai dirinya masing-masing, melainkan karena Allah menakdirkan kami untuk menjalani kehidupan bersama, dengan segala proses belajar yang menyertainya.

Tapi seriussss, ges, saya memang nggak punya ekspektasi apa-apa ketika menikah. WKWKWK.
Bukan tipe yang sejak lama membayangkan betapa indahnya kehidupan setelah menikah. Bukan yang sibuk berhalu tentang bagaimana nanti kami akan berlarian ke sana kemari, tertawa bersama, melakukan banyak hal romantis, atau menjalani hari-hari penuh bunga-bunga.
Bukan juga yang membayangkan harus diperlakukan bak princess, atau bahkan queen, yang setiap keinginannya harus dipenuhi dan setiap suasana hatinya harus dipahami tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Ya, meskipun kalau dikasih perlakuan manis, siapa juga yang nggak suka? Ehehehehe.

Saya bukan antiromantis. Bukan pula menganggap bahwa perempuan tidak boleh punya keinginan untuk disayangi, diperhatikan, atau diperlakukan dengan lembut oleh suaminya. Tentu saja boleh. Bukankah itu bagian dari indahnya hubungan suami-istri?
Hanya saja, saya tidak ingin menggantungkan kebahagiaan pernikahan pada bayangan-bayangan yang saya bangun sendiri.
Sebab, sering kali yang membuat seseorang kecewa bukan semata-mata karena pasangannya melakukan sesuatu yang buruk, tetapi karena kenyataan tidak berjalan sebagaimana yang sudah dibayangkan.
Kita membayangkan suami akan begini, ternyata begitu. Membayangkan kehidupan setelah menikah akan seperti ini, ternyata justru dihadapkan pada keadaan yang sama sekali berbeda. Membayangkan akan selalu punya waktu berdua, ternyata setelah punya anak, untuk duduk dan mengobrol dengan tenang saja kadang harus menunggu si kecil tidur.
Kalau sejak awal saya sudah membuat daftar panjang tentang bagaimana seharusnya suami bersikap, bagaimana seharusnya rumah tangga berjalan, dan bagaimana seharusnya saya diperlakukan, jangan-jangan setelah menikah saya malah sibuk membandingkan kenyataan dengan angan-angan sendiri.
Padahal, kehidupan rumah tangga bukan cerita yang sudah selesai ditulis sebelum kami menjalaninya.
Kami baru akan mengetahuinya setelah benar-benar hidup bersama.
Maka, alih-alih sibuk membayangkan hak-hak apa saja yang akan saya dapatkan, waktu itu saya justru lebih banyak mengkaji ulang kewajiban-kewajiban saya sebagai seorang istri.
Alhamdulillah, Allah masih memberikan saya taufik dan hidayah untuk memikirkan perkara itu. 😭
Bukan karena saya sudah menjadi istri yang baik. Jauh, jauh sekali. Justru karena saya sadar bahwa menjadi istri bukan perkara sederhana. Ada tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Ada hak suami yang harus dipahami, ada adab yang perlu dijaga, ada ilmu yang harus terus dipelajari.
Saya tidak ingin memasuki pernikahan hanya dengan modal perasaan suka, kemudian kebingungan sendiri ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa pernikahan juga menuntut ilmu, kesabaran, dan tanggung jawab.
Perasaan memang penting, tetapi perasaan saja tidak cukup untuk menjadi bekal perjalanan yang panjang.
Cinta bisa membuat kita ingin memulai. Namun, ilmu, ketakwaan, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri akan sangat kita butuhkan ketika perjalanan itu tidak lagi terasa mudah.
Setidaknya, itulah yang ingin saya usahakan.
Bukan berarti setelah menikah saya langsung bisa menerapkan semuanya dengan baik, ya. Teori mah gampang. Tinggal baca, pahami, catat, lalu merasa sudah mengerti. Praktiknya? HAHAHA. Kadang, perkara yang sudah berkali-kali dipelajari pun masih perlu diperjuangkan ketika berhadapan dengan ego sendiri.
Ternyata mengetahui apa yang benar dan mampu melakukannya secara konsisten adalah dua perkara yang berbeda.
Dan pernikahan, salah satunya, menjadi tempat saya belajar tentang itu.

Maka, kami memulai pernikahan dengan belajar mengenal satu sama lain.
Iya, belajar mengenal.
Agak lucu memang kalau dipikir-pikir. Kami ini bukan dua orang asing yang sama sekali tidak tahu keberadaan satu sama lain. Kami sudah saling mengenal sebelumnya, tahu keluarga masing-masing, tahu bahwa kami berasal dari kampung yang sama, bahkan sesekali berinteraksi lewat media sosial.
Kalau ada story yang menarik, kadang komen. Ada hubungan kekerabatan juga, karena hitungannya dia sepupu dari sepupu saya.
Jadi, sebenarnya bukan sekadar tahu nama dan wajah.
Kami cukup mengenal satu sama lain, setidaknya untuk ukuran orang-orang yang berada dalam lingkaran pergaulan dan keluarga yang berdekatan.
Tapiiiii, ada satu cerita yang membuat semuanya jadi lebih lucu.
Sebelum akhirnya menikah, dia beberapa kali mengajak saya menikah dan saya tolak terus selama kurang lebih lima tahun.
LIMA TAHUN, GES. 😭
Bayangkan saja, selama itu pula kami menjalani kehidupan masing-masing. Sampai akhirnya, setelah berkali-kali penolakan, hubungan yang tadinya cukup akrab justru berubah menjadi asing dan kaku.
Preeet. WKWKWK. 🤣
Entah bagaimana menjelaskannya. Kami yang sebelumnya bisa mengobrol biasa, lama-lama malah seperti orang yang mau bicarakan apa juga mikir. Barangkali karena ada kecanggungan tersendiri setelah beberapa kali percakapan tentang pernikahan berakhir dengan jawaban yang sama.
Sampai pada akhirnya, Allah menakdirkan kami menikah.
Maka, orang yang dahulu terasa canggung untuk diajak mengobrol itu kini menjadi orang yang setiap hari saya temui. Orang yang dahulu sesekali muncul di story, sekarang malah bisa saya temui tanpa harus membuka sosial media.

Memahami Seni Hidup Serumah

Lucu, ya, bagaimana sesuatu yang dahulu berkali-kali saya tolak justru menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. 
Eh tapi ini saya tidak sedang menyarankan orang-orang untuk menunggu selama lima tahun, kemudian berharap orang yang sama akan menjadi jodohnya, loh yaa... Bukan begitu. Tentu saja, bukan berarti setiap penolakan akan berakhir dengan pernikahan. Bukan pula berarti seseorang harus terus menunggu selama bertahun-tahun agar akhirnya diterima.
Kisah setiap orang berbeda. Keputusan untuk menikah pun bukan perkara yang bisa dipukul rata. Namun, dari perjalanan kami, saya belajar bahwa tidak semua hal bisa dipahami hanya dari keadaan yang terlihat saat ini.
Kisah kami mungkin bisa menjadi pengingat bahwa manusia boleh memiliki rencana, pertimbangan, dan keputusan, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah.
Ada perkara yang dahulu terasa tidak mungkin, tetapi kemudian Allah mudahkan. Ada masa ketika seseuatu itu belum menjadi pilihan, masih jadi hal yang dahulu belum bisa diterima, tetapi seiring waktu, setelah berbagai pertimbangan yang dan perubahan keadaan, ternyata malah menjadi jalan yang dipilih.

Dan sekarang, orang yang dahulu saya tolak berkali-kali itu justru menjadi teman hidup saya.
HADEHHH. Kalau dipikir-pikir, ada-ada saja jalan cerita kehidupan ini. WKWKWK.
Tapi begitulah.
Kita menjalani bagian yang Allah takdirkan untuk kita jalani, sembari terus berusaha mengambil keputusan yang baik dan memohon petunjukNya.

Setelah menikah, kami pun memulai babak baru.
Dan ternyata, menikah dengan seseorang yang sudah dikenal sebelumnya tetap menyisakan banyak hal untuk dipelajari.
Sebab, mengenal seseorang sebelum menikah dan mengenalnya setelah hidup bersama itu dua hal yang berbeda. Dahulu, kami hanya bertemu atau mengobrol pada waktu-waktu tertentu. Setelah percakapan selesai, kami kembali ke kehidupan masing-masing.
Sekarang? Kami bahkan berbagi kehidupan.
Berbagi waktu, ruang, kebiasaan, keputusan, dan berbagai urusan sehari-hari yang sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari percakapan kami.
Ada hal-hal yang baru terlihat ketika hidup bersama. Kebiasaan yang baru diketahui setelah menikah, cara berpikir yang baru dipahami ketika kami menghadapi persoalan tertentu. Dan ada pula sisi diri masing-masing yang mungkin sebelumnya tidak pernah muncul. Juga kebiasaan yang membuat tersenyum karena ternyata lucu juga. Ada hal-hal sederhana yang baru disadari setelah dijalani berulang kali. Saya mulai mengenal suami bukan hanya sebagai seseorang yang saya ketahui namanya, keluarganya, dan kesehariannya secara umum, tetapi sebagai seorang manusia yang punya cerita, pemikiran, kebiasaan, dan proses hidupnya sendiri. Begitu juga suami terhadap saya.
Ternyata, pernikahan bukan sekadar mengubah status dari lajang menjadi menikah. Ada proses penyesuaian yang harus dijalani setelahnya. Kami harus belajar hidup bersama tanpa kehilangan kesadaran bahwa masing-masing tetap punya kepribadian dan tanggung jawab pribadi.  Belajar memahami perbedaan tanpa harus menjadikan semuanya sama. Belajar mengutarakan sesuatu tanpa berharap pasangan selalu bisa membaca pikiran. Belajar mendengarkan tanpa buru-buru merasa diserang. Dan belajar menyadari bahwa orang yang mencintai kita pun belum tentu selalu tahu bagaimana cara terbaik untuk memahami kita. Kadang, sesuatu memang harus dibicarakan. Kadang, kita perlu menjelaskan apa yang kita rasakan. Kadang, kita harus belajar mengatakan, "Aku kurang nyaman kalau begini," daripada berharap pasangan akan menyadarinya sendiri.

Namun, kenyataannya, kami tetap dua orang dengan isi kepala yang berbeda.
Kadang harus dijelaskan. Kadang harus ditanyakan. Kadang perlu diulang berkali-kali sampai akhirnya sama-sama paham.
Dan tentu saja, prosesnya tidak selalu berjalan mulus.
Seringkalinya obrolan berlangsung menyenangkan. Tapi bukan tak mungkin kami tidak pernah berbeda pendapat. Ada kalanya satu pihak merasa sudah menjelaskan dengan baik, tetapi ternyata yang ditangkap pihak lain justru berbeda.
Apa yang terasa jelas bagi saya belum tentu terpikirkan oleh suami. Apa yang menurutnya biasa saja bisa jadi memiliki arti berbeda bagi saya. Atau sesuatu yang menurut saya biasa saja ternyata punya arti berbeda bagi suami. Kadang, cara berpikir yang bagi saya terasa wajar, tetapi belum tentu langsung dipahami olehnya.
Di sinilah komunikasi menjadi penting.
Kami harus belajar menjelaskan apa yang dirasakan, mengungkapkan apa yang dibutuhkan, dan menyampaikan sesuatu tanpa berharap pasangan selalu bisa membaca pikiran.
Karna menikah tidak serta-merta membuat dua orang bisa saling memahami tanpa bicara alias bisa telepati. Tidak ada tombol ajaib yang membuat suami langsung mengerti isi kepala istri. Tidak ada pula jaminan bahwa istri akan selalu tahu apa yang sedang dipikirkan suami. 
Kalau bisa begitu, mungkin tidak akan ada drama salah paham dalam rumah tangga. WKWKWK.

Maka, belajar lagi dan lagi.
Pelan-pelan, kami mulai memahami bahwa menjadi pasangan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang cocok dengan kita dalam segala hal.
Kadang, justru tentang bagaimana dua orang yang memiliki perbedaan belajar menyikapinya dengan bijak.
Kami belajar mengobrol.
Tentang banyak hal.
Tentang keseharian, tentang harapan, tentang hal-hal yang kami sukai, tentang sesuatu yang mengganggu pikiran, bahkan tentang perkara-perkara sederhana yang mungkin bagi orang lain tidak penting.
Kami mulai mengenal bagaimana masing-masing menjalani hari. Bagaimana cara dia menyikapi sesuatu. Bagaimana merespons ketika sedang lelah. Bagaimana kebiasaan ketika bangun tidur, bagaimana cara menghabiskan waktu luang, bagaimana menghadapi masalah, sampai bagaimana mengekspresikan rasa kesal atau kecewa.
Belajar mendengarkan tanpa buru-buru membela diri. Belajar menyampaikan pendapat tanpa merasa harus selalu menang. Belajar menerima bahwa perbedaan pendapat tidak otomatis berarti salah satu pihak tidak menyayangi yang lain.
Sebab, tujuan komunikasi bukan untuk membuktikan siapa yang paling benar, melainkan agar kami bisa memahami persoalan dan mencari jalan keluar dengan cara yang baik.
Tidak langsung paham semuanya. Tidak langsung cocok dalam segala hal. Pelan-pelan saja. Toh, kami juga baru memulai kehidupan bersama. Mana mungkin langsung mengerti seluruh isi kepala satu sama lain?

Dan, sejujurnya, ada sesuatu yang terasa menyenangkan dari proses mengenal pasangan setelah menikah.
Rasanya seperti membuka buku yang sudah pernah dilihat sampulnya, tetapi ternyata belum pernah benar-benar dibaca.
Kita tahu siapa orangnya. Kita tahu sedikit banyak tentang kehidupannya. Namun, ternyata masih ada begitu banyak halaman yang belum kita kenal.
Jadi hal menarik dari pernikahan adalah: kesempatan untuk jatuh cinta kepada orang yang sama, berkali-kali, dengan cara yang berbeda in a halal way, ofcourse.
Ah, cieeeee.
WKWKWK.

Banyak hal yang baru bisa diketahui setelah tinggal bersama. Cerita masa kecil yang baru dibagikan setelah sekian lama. Cara pandang yang baru diketahui ketika menghadapi persoalan tertentu. Juga sisi kepribadian yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam percakapan biasa.
Sedikit demi sedikit, latar belakang masing-masing terkuak. Mengapa seseorang bersikap demikian, mengapa suatu perkara terasa penting baginya, atau mengapa sesuatu yang tampak sederhana ternyata cukup memengaruhi perasaannya.
Tentu saja, memahami bukan berarti harus selalu menyetujui.
Namun, dengan mengenal latar belakang pasangan, kami punya kesempatan untuk merespons dengan lebih bijak, alih-alih buru-buru menilai.
Saya juga belajar bahwa kedekatan tidak selalu tumbuh hanya karena dua orang menghabiskan banyak waktu bersama. Kedekatan juga tumbuh ketika keduanya bersedia membuka diri, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan menyediakan ruang aman untuk membicarakan berbagai hal. Bahkan perkara yang kelihatannya sepele pun bisa menjadi jalan untuk semakin mengenal satu sama lain.
Obrolan tentang masa lalu, kebiasaan sehari-hari, pandangan terhadap suatu perkara, sampai pembicaraan tentang cita-cita dan tanggung jawab di masa depan.
Semua itu menjadi bagian dari proses kami membangun kehidupan bersama.
Dan saya menyukai kenyataan bahwa setelah menikah, ternyata masih ada banyak hal yang bisa dipelajari tentang seseorang yang setiap hari berada di dekat kita.
Ternyata, mengenal pasangan bukan pekerjaan yang selesai setelah akad.
Ia adalah proses yang terus berjalan, seiring bertambahnya pengalaman, berubahnya keadaan, dan bertumbuhnya usia pernikahan.

Lalu di pertengahan perjalanan perkenalan, Allah 'azza wa jalla kemudian menitipkan amanah seorang anak kepada kami. Masyaallah, tabarakallah.
Sebuah amanah yang tentu kami syukuri, sekaligus membawa perubahan besar dalam kehidupan kami.
Kami yang sebelumnya baru belajar berdiri sebagai pasangan suami-istri, juga harus belajar menjalani identitas baru sebagai orang tua.
Dua panggilan baru, dua peran baru, dan segudang tanggung jawab yang sebelumnya hanya bisa kami bayangkan dari luar.

Rasanya seperti baru saja memulai satu perjalanan, tetapi kemudian Allah mempercayakan perjalanan lain yang tidak kalah besar untuk dijalani bersamaan.
Kami belum lama belajar memahami satu sama lain sebagai suami-istri. Belum lama belajar menyesuaikan kebiasaan, membangun komunikasi, dan mengatur kehidupan bersama. Namun, sekarang ada seorang manusia kecil yang kehadirannya membuat banyak hal harus kami pikirkan kembali.
Bukan lagi hanya tentang saya dan suami.
Ada kebutuhan seorang anak yang harus diperhatikan, waktu istirahat yang beruba, rutinitas yang menyesuaikan. Hingga keputusan-keputusan yang kini turut mempertimbangkan kepentingan si kecil.
Hal-hal yang dahulu terasa sederhana bisa menjadi berbeda setelah punya anak.
Waktu untuk berdua, misalnya.
Dahulu, kalau ingin mengobrol, kami bisa melakukannya kapan saja selama sama-sama punya waktu. Sekarang, obrolan bisa terpotong karena si kecil menangis, minta digendong, atau membutuhkan perhatian.
Dahulu, waktu istirahat mungkin bisa diatur sesuai kebutuhan masing-masing. Sekarang, tidur pun harus menyesuaikan keadaan.
Belum lagi berbagai hal baru yang harus dipelajari sebagai orang tua. Bagaimana merawat bayi, memahami kebutuhannya, menjaga kesehatannya, dan mengambil keputusan yang tepat untuk tumbuh kembangnya.
Ada banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kami pikirkan sedetail itu.
Ternyata menjadi orang tua bukan sekadar menambah satu anggota keluarga. Ia mengubah cara kami menjalani hari, memandang tanggung jawab, dan memahami arti pengorbanan.
Dan semua itu datang ketika kami sendiri masih dalam proses belajar menjadi pasangan.
HAHAHA. Masyaallah, ya. 

Saya kemudian menyadari bahwa menjadi suami-istri dan menjadi orang tua adalah dua peran yang saling berkaitan, tetapi masing-masing tetap membutuhkan proses belajar.
Menjadi orang tua tidak otomatis membuat seseorang langsung matang dalam segala hal. Punya anak tidak berarti kita mendadak tahu semua jawaban. Bahkan, kadang justru semakin banyak hal yang kita sadari belum kita ketahui.
Kami masih harus belajar memahami kebutuhan anak, tetapi juga tetap belajar memahami kebutuhan satu sama lain sebagai pasangan.
Kami harus belajar mengatur waktu, membagi perhatian, dan menyesuaikan harapan dengan keadaan yang sedang dijalani.
Sebab, di tengah kesibukan mengurus anak, kami tetaplah dua orang yang sedang membangun rumah tangga.
Suami bukan hanya Baba bagi anak kami. Ia juga tetap seorang suami yang memiliki kebutuhan, perasaan, dan tanggung jawabnya sendiri.
Begitu pula saya. Saya bukan hanya Ummah yang bertugas mengurus anak, tetapi juga seorang istri yang masih harus belajar menjalankan hak dan kewajibannya dalam rumah tangga.
Dan di balik semua itu, kami tetaplah dua manusia biasa.
Bisa lelah. Bisa bingung. Bisa melakukan kesalahan. Bisa merasa kewalahan ketika berbagai tanggung jawab datang bersamaan.
Maka, kami juga perlu belajar untuk tidak saling menuntut kesempurnaan di tengah proses yang sedang dijalani.
Ada kalanya salah satu dari kami membutuhkan bantuan. Ada kalanya perlu saling mengingatkan. Ada kalanya harus duduk bersama untuk membicarakan kembali bagaimana tanggung jawab rumah tangga bisa dijalankan dengan lebih baik.
Bukan untuk mencari siapa yang paling banyak berkorban, siapa yang paling lelah, atau siapa yang paling berjasa.
Melainkan untuk mengingat bahwa kami sedang mengemban amanah yang sama-sama harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, meskipun dengan peran dan kewajiban yang berbeda.
Anak ini bukan hanya amanah bagi saya, dan bukan hanya amanah bagi suami. Kami berdua harus belajar bagaimana mengasuh dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya, menyadari bahwa ilmu tentang pengasuhan bukan hanya tentang bagaimana merawat anak, tetapi juga bagaimana orang tuanya mempersiapkan diri untuk mendidik dan memberi teladan. Sebab, anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Ia juga membutuhkan orang tua yang terus belajar agar bisa menjalankan amanah pengasuhan dengan baik. Dan, yup! Menjadi orang tua pun bukan tentang menjadi manusia sempurna.
Begitu pula pernikahan ini. Bukan hanya saya yang harus belajar menjadi istri yang baik, dan bukan hanya suami yang harus belajar menjadi suami yang baik. Kami sama-sama perlu memperbaiki diri, sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.
Prosesnya tidak selalu mudah.
Ada ilmu yang harus terus dipelajari. Ada kebiasaan yang perlu diperbaiki. Ada kesalahan yang mungkin baru disadari setelah terjadi. Ada pula perkara yang baru benar-benar dipahami setelah kami sendiri mengalaminya.
Namun, bukankah memang begitu kehidupan?
Kita tidak selalu memahami segala sesuatu sebelum menjalaninya. Kadang, kita baru menyadari betapa besar tanggung jawab suatu peran setelah Allah benar-benar menitipkannya kepada kita.
Dan sekarang, salah satu peran itu adalah menjadi orangtua.
Sebuah peran yang semoga bisa kami jalani dengan pertolongan Allah.

Jadi... Kalau dipikir-pikir, ternyata menikah tanpa ekspektasi bukan berarti hidup tanpa harapan.
Saya tetap punya harapan untuk rumah tangga ini.
Saya berharap Allah menjaga kami dalam kebaikan. Saya berharap kami bisa saling menolong dalam ketaatan. Saya berharap kami dimampukan menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan benar.
Saya berharap anak kami tumbuh dalam lingkungan yang baik, dengan orang tua yang terus belajar agar bisa memberikan pengasuhan yang sesuai dengan tuntunan agama.
Dan tentu saja, saya berharap kehidupan rumah tangga ini menjadi jalan kebaikan bagi kami, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Hanya saja, saya ingin belajar membedakan antara harapan yang baik dan ekspektasi yang justru membuat diri sendiri sibuk menuntut manusia.
Saya boleh berharap suami menjadi pasangan yang baik, tetapi saya juga harus belajar menjadi istri yang baik.
Saya boleh berharap anak tumbuh menjadi anak yang saleh, tetapi saya pun harus terus belajar menjalankan amanah sebagai orang tua.
Saya boleh berharap kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik, tetapi saya juga harus memahami bahwa akan ada ujian, perubahan, dan keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.
Dan ketika menghadapi semuanya, saya ingin terus belajar mengembalikan urusan kepada Allah.
Bukan berarti tidak perlu berusaha. Justru kita harus berusaha, mengambil sebab-sebab yang baik, mempelajari ilmu yang dibutuhkan, dan menjalankan tanggung jawab semampu kita.
Namun, setelah semua usaha itu dilakukan, kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Saya tidak bisa menjamin bahwa suami akan selalu bersikap sesuai keinginan saya.
Saya juga tidak bisa menjamin bahwa diri saya akan selalu mampu menjalankan setiap peran tanpa kesalahan.
Yang bisa saya lakukan adalah terus belajar, terus memperbaiki diri, dan memohon pertolongan Allah agar tidak dibiarkan mengandalkan kemampuan diri sendiri.


Bismillah ya Allah... Bimbing kami.


Bekasi, 29 Oktober 2026
Ummu I. S.