Pages - Menu

Tuesday, September 20, 2016

"Maaf, saya kurang pandai berbahasa daerah.."






sorce: fitrapastibisa.blogspot.com 









Oh! aku merasa kecil lagi!
        Yah.. begitu-lah kalau misalnya suatu obrolan sudah mulai datang pada pembicaraan tentang "coba terjemahkan kalimat ini ke Bahasa daerahmu".
            Jawabanku "Maaf, saya kurang tau..", Selalu mengundang kernyitan di dahi para penanya yang sudah penasaran dengan bunyi bahasa daerah kampung-ku dari kalimat yang mereka lontarkan. "Masa' sih ga tau?" ujar mereka dengan tatapan tidak percaya. Oh my God, buat apa aku berbohong? Saya memang benar-benar tidak tau.
            Bukan apa-apa, tetapi almarhum Abi (panggilan saya kepada ayah) berasal dari Alor-Wolwal dan Ummi (panggilan saya kepada ibu) berasal dari Solor-Lohayong. Solor dan Alor adalah dua daerah yang berada di 2 pulau berbeda dengan bahasa, logat dan adat yang jauh bebeda. Entah karena alasan perbedaan tersebut atau apa, semenjak kecil kami dibiasakan berkomunikasi sehari-hari di rumah dengan Bahasa Indonesia, meskipun dengan aksen yang bercampur-campur karena kami dulu sering berpindah-pindah tempat tinggal.  Saat tinggal di Kupang, tentu saja kami ber-Bahasa Indonesia dengan aksen Kupang, dengan perubahan kata "saya" menjadi "beta", "tidak" menjadi "sonde", dll., tapi itupun belum kupahami betul. Karena, saya bukan asli Kupang. Begitu pun saat tinggal di Alor dan Mbay (sekarang, Nagekeo). Di Alor dan Mbay, bahasa yang kami gunakan malah lebih baku lagi dibanding saat di Kupang, sekali lagi tentu saja Bahasa Indonesia tapi dengan aksen daerah setempat. Biasanya di Alor dan Mbay bahasa Indonesianya juga disingkat singkat seperti di Kupang, contohnya kata "tidak" disingkat menjadi" ti", kata "saya" yang disingkat menjadi "sa" dan "juga" menjadi " ju".
            Baik Abi ataupun Ummi, sangat-jarang-sekali menggunakan bahasa daerah saat berbicara pada kami, ditambah lagi dengan tempat tinggal keluarga (inti) kami yang dulu sering berpindah-pindah, kami, lebih khususnya aku dibanding dengan ketiga saudaraku, minim kosakata bahasa daerah baik itu bahasa Wolwal maupun Solor Lohayong. Hanya beberapa kata saja yang aku mengerti dari bahasa Solor-Lohayong, untuk bahasa Alor-Wolwal, ingatan saya tentang satu dua kosakata yang sudah berusaha ku hafal sedikit diragukan. Mengapa? tentu saja karena faktor lingkungan (rumah) tempat saya lebih banyak mengahabiskan waktu yang menggunakan bahasa Indonesia sehari-harinya sehingga meskipun saya sudah menghafal banyak kosakata, tetapi karena pembelajaran dan juga penerapan yang kurang, maka itu sama saja sia-sia.
source: bahasa.net            Coba bandingkan dengan yang berikut ini. Dibanding Bahasa daerah kampung saya; Alor-Wolwal dan Solor-Lohayong, saya malah lebih paham dan banyak mengerti bahasa Jawa kasar yang biasa digunakan antara anak-anak muda Jawa dengan kawan sebayanya. Mengapa? Tentu saja karena saat mondok di Malang selama 4 tahun, saya di kelilingi oleh teman-teman yang didominasi oleh orang-orang Jawa Timur yang sering menggunakan bahasa Jawa kasar dalam obrolan sehari-harinya, sehingga mau tidak mau selama 4 tahun itulah saya secara tidak sadar belajar dan menggunakan bahasa Jawa kasar.
            Sambil menulis catatan ini, saya juga akhirnya menyadari bahwa kemampuan berbahasa Arab saya yang juga memang tidak bagus-bagus amat, menjadi semakin tidak bagus lagi sekarang. Mengapa? Karena kurangnya pembelajaran, penerapan dan penggunaannya dalam 4 tahun terakhir ini dibandingkan dengan saat mondok di Malang dulu.
***
            Akhirnya, sebenarnya tulisan ini kurang memiliki poin penting. Hanya di dominasi oleh cerita-cerita curahan hati saya yang akhirnya tergelitik untuk menulis tentang ini, setelah ke sekian kalinya mendapat tatapan dan kalimat tidak percaya dari orang-orang ketika saya bilang bahwa saya tidak menguasai bahasa daerah asal saya. Hehehe :D
            Tapi ada juga kan hikmah yang bisa di ambil? Hikmahnya gak tersirat kok, sudah tersurat denga jelas diatas :). Kalau mau di peribahasakan nih bisa kayak gini nih:
"Ilmu tanpa amal itu seperti pohon berbuah yang tidak menghasilkan buah"
########

Source: gambar 1: fitrapastibisa.blogspot.com
             gambar 2: bahasa.net

Ad

close